Bagian Satu: Pergelutan Islam - Kristen Potret Sejarah Keagamaan di Parigi

Gagasan untuk mengkaji topik tentang pengkristenan orang-orang Pribumi Makassar muncul ketika mengikuti program  Strata Satu (S1) pada Jurusan pendidikan Sejarah, Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial, Universitas Negeri Makassar, tahun 2007. Dalam kesempatan itu penulis sempat bersentuhan langsung dengan para pelaku di lapangan, baik dari pihak Kristen maupun dari pihak Islam. Dan dari situlah penulis merasakan dinamika kristenisasi yang terjadi di kampung terpencil ini, Parigi. Waktu itu penulismasih berstatus sebagai mahasiswa sejarah, penulis merasa memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk menggali dinamika tersebut. Dan dari situ kemudian berniat menyumbangkan sesuatu dalam bentuk karya ilmiah.
Tulisan yang berasal dari naskah skripsi ini, takkan selesai tampa keterlibatan berbagai pihak diantaranya Prof. Dr. HM. Idris Arief, MS,  Rektor Universitas Negeri Makassar; Drs. Amiruddin, M. Pd, Dekan Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar; Drs. Muhammad Rasyid Ridha, M. Hum, Ketua Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar, ketika penulis masih berstatus sebagai mahasiswa (2007).
Penghargaan dan terima kasih yang setinggi-tingginya  penulis sampaikan kepada ayahanda Dr. Mustari Bosra, M. Ag dan Ayahanda Drs. Najamuddin, M. Hum, pembimbing pendamping, yang bagi penulis lebih dari sekedar pembimbing, melainkan seorang ayah yang membimbing anaknya dalam memberikan kontribusi pemikiran, ide dan referensi dalam penulisan karya ilmiah ini.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Pihak atas terciftanya Tulisan ini. Terakhir, penulis telah berusaha berbuat maksimal mulai dari bentuk  skripsi sampai berbentuk buku seperti ini, tetapi berbagai kekurangan dan kekeliruan pasti akan dijumpai. Karena itu, buku ini selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik yang konstruktif dari para pembaca sekalian. Apalagi topik kajian dalam buku ini merupakan sebuah babak awal dari pengembaraan sejarah yang tampa putus.
Butta Mangkasara‘, 24 September  2010
Amir Al-Maruzy

BAGIAN I PENGANTAR
Kristenisasi di Sulawesi Selatan sudah lama dirintis. Usaha ini mulai dilakukan sejak pertengahan abad XVI, sebelum bersatunya kerajaan-kerajaan di Jazirah Sulawesi Selatan. Pembawa Kristen paling awal adalah bangsa Portugis, bangsa ini dikenal sebagai bangsa penjelajah dan penakluk. Portugis pula bangsa pertama Eropa yang menginjakkan kakinya di Nusantara. Portugis yang mempunyai hasrat untuk menemukan dan menguasai sumber rempah-rempah yang kala itu sangat di butuhkan di Eropa. Disamping tujuan tersebut Portugis pula mempunyai tujuan lain, yakni kekuasaan dan penyebaran Agama Kristen. Portugis menggunakan semboyan 3G. yakni Gold (kekayaan), Glory (kekuasaan) dan Gospel (penyebaran Agama Kristen).
Menurut sumber-sumbernya, Portugis pula adalah bangsa Eropa pertama yang berhasil menjangkau Sulawesi Selatan. Bangsa Portugis itu adalah Antonio de Payva. Ia datang pada tahun 1542. De Payva kemudian disusul oleh Ruy vas Pareira dua tahun kemudian. Ruy adalah saudagar Potugis yang berprofesi juga sebagai Misionaris atau penyebar agama Kristen.
Usaha kristenisasi yang dilakukan oleh Misionaris Ruy vas Pareira ini membuahkan keberhasilan. Terbukti empat raja di Sulawesi Selatan berhasil dikristenkan. Ke empat raja ini masing-masing Arung Alitta, Datu Suppa, Arung Bacukiki dan Karaeng Siang.
Sumber Makassar pun membenarkan hal ini, dalam lontarak yang terdapat pada Koleksi UNHAS disebutkan bahwa : “Pendeta itu berhasil memasukkan Kristen Datu Suppa yang bernama Makeraiye dan didirikan sebuah Gereja di Kampung Maena. Ia juga berhasil memasukkan Kristen Raja Bacukiki, daerah yang terletak di pinggir laut, dan Raja Siang di Pangkajene”.
Kristenisasi juga kemudian sampai di Kerajaan Tallo, dimana dikatakan dalam sumber Portugis, bahwa Raja Tallo, I Mappatakang Kantana Daeng Padulung Tumenanga ri Kayaoang (1545 – 1577) berhasil di baptis oleh Pastor Viegas pada tahun 1545.5 Meskipun misionaris-misionaris Portugis gencar melakukan kristenisasi dan hampir berhasil mengkristenkan Sulawesi Selatan. Sebab mereka telah berhasil membaptis beberapa penguasa diantaranya Arung Alitta, Datu Suppa, Arung Bacukki, Karaeng Siang dan Karaeng Tallo.
Beberapa faktor yang menyebabkan gagalnya kristenisasi pada waktu itu adalah ramainya orang-orang Arab yang datang untuk berdagang di Sulawesi Selatan serta tumbuhnya Kerajaan Gowa sebagai Kerajaan besar yang menebarkan hegemoni kekuasaannya terhadap kerajaan-kerajaan tetangganya di Jazirah Sulawesi Selatan. Apalagi pada tahun 1605 Islam dijadikan sebagai Agama resmi Kerajaan Gowa.
Kerajaan-kerajaan yang sebelumnya menganut Agama Kristen menjadi bawahan atau Palili’ dari kerajaan Gowa yang telah menganut Islam sebagai agama negaranya. Dengan demikian mau tidak mau kerajaan-kerajaan tersebut harus menganut pula Agama dari sang penakluk. Faktor terpenting lainnya yang menyebabkan  terhentinya kristenisasi oleh bangsa Portugis, yakni kedatangan bangsa Belanda sebagai penguasa baru di Sulawesi Selatan. Hegemoni Belanda ini ditandai dengan ditaklukkannya Kerajaan Gowa lewat Perang Makassar yang amat dahsyat yang berakhir dengan Perjanjian Bongaya tanggal 18 Nopember 1669, perjanjian ini sebagai titik awal berkuasanya bangsa Belanda di Sulawesi Selatan.
Dengan berkuasanya Belanda ini, praktis Portugis menjadi tersingkir dari panggung Sulawesi Selatan, sebab antara Belanda dan Portugis adalah musuh dalam segi politik, serta Agama yang dianut oleh mereka, pada waktu itu masih tajam pertentangannya, yakni antara agama Kristen Protestan dan Kristen Katolik.
Pada mulanya Belanda bersikap netral terhadap Agama dan lebih mengutamakan tujuan-tujuan sekulernya. Namun setelah terjadi perubahan kebijakan di negeri Belanda, yakni Kebijakan Liberal (1855-1900). Maka Belanda pun kemudian melaksanakan kristenisasi dengan mengirimkan Zending-zendingnya.
Jauh sebelumnya di Sulawesi Selatan kristenisasi sudah dilaksanakan, ini dibuktikan dengan adanya komunitas Kristen di Bonthain yang sudah mempunyai Gereja. Gereja ini rencananya akan dijadikan sebagai pusat kristenisasi di daerah Bonthain, Bulukumba dan sekitarnya. Bahkan Zending Belanda yang bernama Doonselaar  pada tahun 1858, melakukan usaha kristenisasi dengan menerjemahkan kitab Injil ke dalam bahasa Makassar. Namun Injil Versi bahasa Makassar ini kemudian dilarang beredar oleh Pemerintah, sebab ditakutkan akan memicu kebencian rakyat yang sudah berabad-abad menganut Islam dan bahkan Islam bagi rakyat Sulawesi Selatan, bahkan sudah mendarah daging dalam lubuk sanubari mereka. Satu-satunya harapan bagi para Zending Belanda dalam mencari “domba-domba yang tersesat” adalah mencari komunitas atau suku yang belum terkontaminasi oleh pengaruh Islam. Komunitas tersebut adalah Suku Toraja. Suku Toraja terbagi atas empat kelompok besar yakni: Palu Toraja, Koro Toraja, Poso Toraja dan Sa’dan Toraja.
Dan Mattulada mengatakan bahwa : “Orang Toraja, ialah penduduk Sulawesi Tengah, untuk sebagian juga mendiami Propinsi Sulawesi Selatan, ialah wilayah Kabupaten Tana Toraja dan Mamasa. Mereka itu biasanya disebut orang Toraja Sa’dan…..”.
Suku Toraja yang bermukim di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat menurut para ahli disebut Toraja Sa’dan. Mereka bermukim di pegunungan dan lembah-lembah sungai Sa’dan di daerah Tana Toraja dan Mamasa. Usaha para Zending Belanda mulai nyata hasilnya sekitar tahun 1900-an. Sebuah lembaga pengkabaran Injil dalam bahasa Belanda bernama Gereformeerde Zending Bond (GZB) yang berpusat di negeri Belanda adalah salah satu sponsor kristenisasi kepada suku Toraja. Tahun 1901 – 1923 adalah awal kristenisasi disana.
Disinilah pusat agama Kristen mulai dari sebelum kemerdekaan Indonesia sampai saat ini. Bahkan ada Indikasi kuat bahwa di daerah ini dijadikan sebagai pusat kristenisasi ke segala penjuru Sulawesi Selatan. Sebab Tana Toraja dan Mamasa di dukung oleh keadaan geografis yang terisolasi dari pengaruh Islam.
Seperti yang dikatakan oleh N. Adriani : “Daerah Tana Toraja adalah daerah yang paling baik sebagai pusat daerah Pangkalan Injil karena jauh dari pengaruh Islam, ini disebabkan karena letak Tana Toraja di atas gunung, sedangkan kekuasaan Islam menduduki daerah Pantai”
Adapun saluran kristenisasi di Sulawesi Selatan dari dulu sampai saat ini seperti yang dikatakan oleh Sarira : “Orang Kristen harus masuk ke dalam tiap bagian, ke dalam politik, pelayanan politik dan nasional, seni dan kebudayaan, guna bekerja sama secara nyata dengan orang-orang bukan Kristen dan menjadi saksi Kristen dalam segala hal”
Menurut Van den End, orang-orang Indonesia masuk ke agama Kristen disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya faktor politik, stratifikasi sosial dan perkawinan. Jadi dapat disimpulkan bahwa saluran kristenisasi yakni faktor ekonomi, politik, pelayanan kesehatan serta sarana pendidikan / sekolah-sekolah.
Para Zending dengan giat dan sistematis melakukan kristenisasi sampai saat ini. Daerah Tana Toraja dan Mamasa yang sebelumnya telah berhasil dikristenkan, kemudian menjadi pusat pengkabaran Injil ke seluruh Jazirah Sulawesi Selatan. Dari berbagai fenomena yang sudah dipaparkan sebelumnya, maka studi ini akan berfokus kepada masalah kristenisasi di Sulawesi Selatan, khususnya di Parigi Kabupaten Gowa.
Alasan kenapa studi ini mengambil daerah Parigi sebagai daerah yang akan diteliti dalam masalah kristenisasi, meskipun kristenisasi terjadi di berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Namun di Parigi, proses kristenisasi sudah berlangsung lama, yakni dimulai pada tahun 1930-an sampai sekarang. Metode yang dilakukan dalam penyebaran Kristen di Parigi antara lain seperti yang telah disebutkan sebelumnya yakni pembangunan sarana pendidikan, pemberian sumbangan-sumbangan sembako, penyediaan sarana dan prasarana umum serta penyebaran orang Kristen untuk menjadi Zending pada daerah ini.

Rentang panjang kristenisasi di Parigi Kabupaten Gowa tentulah memiliki aspek historis yang berdimensi sosial, politik dan budaya yang menarik untuk dikaji dan diungkap secara ilmiah terutama dari sudut pandang sejarah. Akhirnya, kompleksitas masalah di dalam proses kristenisasi di Parigi Kabupaten Gowa akan menjadi bahan kajian dalam karya tulis ini.  Lanjut Ke Bagian Ke-2