JALAN-JALAN KE MALINO

Kabupaten Gowa adalah salah satu kabupaten yang berbatasan langsung dengan kotaMakassar, ibukota propinsi Sulawesi Selatan, sekaligus penyangga utama kota Makassar. Daerah kabupaten Gowa terletak antara 12’. 36,6’ BT dan 5’ . 33,6’ BT. Letaknya antara 12’ . 33,19’ – 13’ . 15,17’ BT sampai 5’ . 34,7’ LS .
Kota Malino, yang terletak 90 km arah Selatan Kota Makassar, tepatnya di kecamatanTinggimoncong, Kabupaten Gowa, merupakan salah satu kawasan wisata alam yang memiliki daya tarik yang luar biasa, seperti kawasan puncak Bogor ataupun Bandung. Di kawasan wisata Malino sendiri, terdapat hutan wisata, berupa pohon pinus yang tinggi berjejer di antara bukit dan lembah. Jalan menanjak dan berkelok-kelok dengan melintasi deretan pegunungan dan lembah yang indah bak lukisan alam, akan mengantarkan Anda ke kota Malino. Kawasan tersebut terkenal sebagai kawasan rekreasi dan wisata sejak zaman penjajahan Belanda. Banyak pengunjung yang datang baik dari Kota Makassar maupun dari daerah-daerah lain di Sulawesi Selatan untuk mendapatkan tempat rekreasi dan refreshing yang aman, terutama pada saat weekend atau liburan.
Malino memang merupakan tempat yang strategis, karakteristik daerahnya terletak pada topographi dengan pemandangan yang indah. Masyarakatnya pun memiliki rasa empati yang tinggi. Sejak zaman Belanda, Malino sudah terpilih sebagai tempat perundingan. Tiga kali diselenggarakan perundingan besar, berlangsung dengan aman dan sukses.
Hawanya sejuk, pemandangannya indah dan membuat hati tenang, itu yang membuat kebanyakan orang jadi betah melepaskan penat di kota Malino. Di kawasan wisataMalino terdapat vila dan penginapan di perbukitan tempat menikmati hawa dingin dengan pesona alam yang luar biasa, juga tempat yang berketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut ini memiliki objek-objek wisata yang menarik dan potensial akan flora dan fauna yang beranekaragam.
Saya berangkat dari Makassar ke Malino, jam 11.00 wita (Jum'at,10/09/10). Jalur yang saya lewati lewat Antang, terus ke kecamatan Patallassang dan tembus ke DAM Bili-bili. Terus ke Kampung Lebonga dan menyeberang ke kampung Jonjo, dengan melewati Sabo Dam yang berfungsi selain sebagai penyeberangan, juga berfungsi sebagai penghambat material lumpur, jika terjadi banjir lumpur di sungai Jeneberang. Pas memasuki kampung Jonjo, hujan pun turun. Terpaksa saya mempelan-pelankan kendaraan (sepeda motor jenis Thunder 125), karena jalan licin ditambah dengan jalan yang menanjak dan berkelok-kelok yang memacu andrenalin.
Jam 13.00 wita, saya memasuk kampung Sicini. Kampung ini terletak di atas pegunungan di seberang sungai Jeneberang. Pada kampung ini pula pernah diadakan kristenisasi secara besar-besaran. Namun kini hanya sekitar 30 jiwa penduduk asli Sicini yang masih 
Saya bermalam selama satu malam ditempat ini. Keesokan harinya jam 08.00 wita (Sabtu,11/09/10). Saya melanjutkan perjalanan ke kota wisata Malino. Saya melewati jalur lain dari yang saya lewati kemarin. Disana-sini pemandangan fantastis memanjakan mata, ditambah dengan sejuknya hawa khas Malino. Tiba di kampung Jonjo, saya singgah di Air terjun di Pinggir jalan ke Malino. Air terjun tersebut di keramatkan oleh penduduk setempat. Air terjun ini belum dikelola sebagai tempat wisata. Air terjun Jonjo memang tidak sefantastis dengan air terjun takapala, namun tetap saja indah dan punya khas tersendiri.
Saya melanjutkan perjalanan menuju kota wisata Malino. Kali saya menyeberangi sungai Jeberang melalui Sabo Dam yang terletak di Kampung Jonjo juga, tapi beda dengan yang kemarin. Akhirnya saya sampai di kampung Panggajiang, kampung ini terletak di di jalan poros Makassar-Malino.
Sebelum memasuki kota wisata Malino, ada beberapa bungker yang terdapat di sisi jalan (ditebing jalan). Bungker ini dahulu dibuat oleh tentara Dai Nippon semasa perang Asia Timur Raya. Konon bungker ini selain berfungsi sebagai tempat penyergapan bila ada tentara sekutu yang menuju ke Malino, juga berfungsi sebagai tempat perlindungan dari serangan bom sekutu dari udara. Bungker ini dibuat dengan mengerahkan tenaga Romusha dari penduduk setempat.
Sayangnya peninggalan sejarah ini tidak dirawat dan dibiarkan begitu saja, bahkan sudah ada bungker yang hilang ditelan oleh pelebaran jalan. Padahal jika bungker jepang ini dikelola maka akan menjadi wisata budaya yang eksotis. Disamping itu jika bungker ini di rawat maka generasi muda akan mengetahui sejarah para pejuangnya. Karena bangsa yang besar itu adalah bangsa yang menghargai para pendahulunya.
Setelah singgah di bungker Jepang, saya melanjutkan perjalanan ke kebun teh. Tempat wisata ini terletak dikampung pattapang. Disinilah puncak tertinggi yang ada di kota wisata Malino. Kalua kita berada ditempat ini kita akan melihat larik-larik tanaman teh, namun sekarang teh ini tidak dirawat lagi. Sungguh eksotis pemandangan disini, dilatarbelakangi oleh pegunungan yang tinggi, dan nampak Dam Bili-bili, disamping itu kita juga dapat melihat kota makassar dari kejauhan. Waktu saya kesana, cuaca yang cerah tiba-tiba ditutupi oleh kabut dan sebentar kemudian turun hujan yang menanbah dinginnya hawa Malino.
Pengunjung saya perhatikan kebanyakan dari etnis Cinese yang mengendarai kendaraan pribadi ketempat ini. Untuk masuk kekawasan kebun teh ini kita cuman membayar karcis tanda masuk Rp. 5000 untuk Motor dan Rp. 10.000 untuk mobil.
Hutan Wisata Malino
Hujan terus mengguyur kota wisata Malino, namun hujan ini bukan penghalang untuk menikmati kawasan wisata malino lainnya. Saya kemudian menuju ke hutan wisata Malino. Disana sudah ramai oleh pengunjung yang rata-rata berasal dari Kota Makassar. Pemandangan disana sangat indah.
Salah satu daya tarik disana adalah wisata menunggang kuda. Tarif untuk sekali keliling hutan wisata malino cuman bayar RP. 10.000. Saya hanya berfose menunggang kuda, dan cuman bayar RP. 5.000. seumur-umur saya barusan menaiki punggung kuda. Ada kecemasan sih… takut jangan-jangan kuda yang kutinggangi itu lari, otomatis saya akan terlempar, dan mungkin akan keinjak-injak kuda. Tapi ternyata kuda-kuda ini sudah terlatih di tunggangi oleh siapun. Setelah puas menikmati hutan wisata malino, saya kemudian melanjutkan perjalanan ke pasar Wisatawan Malino.
Saya pun tiba di pasar wisatawan Malino. Disini sudah ramai, para wisatawan domestik, sudah asyik berbelanja, sekedar oleh-oleh untuk dibawa ke rumah masing-masing. Tenteng kacang, wijen, dodol markisa dan dodol beras ketan adalah salah satu produk khas yang dijual dipasar ini. Disamping itu dijual buah-buahan dan sayur-sayuran khas dataran tinggi. Juga dijual beraneka beras, dan yang mencolok dijual disini adalah beras merah yang kaya kan nutrisi. Disamping itu juga dijual handy craf, antara lain bunga edelweis, dan baju kaos hasil kreasi anak-anak Malino.
Saya membeli tenteng kacang disini, harganya tidak mahal-mahal amat, cuman Rp. 500 per buah. Saya juga beli 1 kaos C59 hasil kreasi anak-anak malino, harganya juga lumayan murah. Rp. 35.000 perlembar.
Setelah puas berbelanja. Saya pun kemudian melanjutkan perjalanan ke Makassar. Namun hujan tidak mau berkompromi. Saya kemudian singgah di warung bakso kosong, disamping Asrama Secata TNI-AD. Disana hampir 1 jam saya bernaung. Dan saya menyempatkan diri Ol disana, sambil menunggu redanya hujan.
Setelah hujan reda, saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Makassar. Dan alhamdulillah, jam 16.30 Wita saya sampai di Makassar dengan Selamat. Betul-betul liburan yang mengasyikkan.***