MITOS TENTANG PENGHARAMAN DAGING BABI???

Ada suatu cerita yang berkembang di daerah saya (Sulsel) tentang diharamkannya babi. Baiklah saya akan menuliskan ringkasan cerita turun temurun tersebut. Pada suatu hari diadakan pesta perjamuan oleh seorang raja (Sombayya). Pesta ini merupakan suatu kenduri perjamuan sang Somba kepada rakyatnya. Istri-istri Sombayya (istrinya sndiri berjumlah 40 orang). Sibuk menyiapkan hidangan para tamu, segala macam hewan dipotong, diantaranya kerbau, kambing, sapi, kambing dan babi.
Pada masa itu babilah yang paling enak dan lezat menurut versi mereka. Saking enaknya daging babi ini, sehingga istri-istri sombayya menyembunyikan sebagian hidangan daging babi ini. Sang Somba kemudian bertanya kepada istri-istrinya, masih ada daging babi, segera keluarkan, istri-istri sang Somba ini kemudian menjawab”daging babinya sudah habis sombangku”. Setelah perjamuan usai, maka istri-istri somba kemudian tiba gilirannya makan. Sombayya pun ikut makan. Dan alangkah terkejutnya Sombayya, ketika melihat masih ada daging babi, padahal tadi istri-istrinya mengatakan sudah habis.
Sang Sombayya kemudian bangkit dan menumpahkan daging babi itu ketanah, seraya berkata, daging ini sudah saya haramkan dan tidak bisa lagi dimakan oleh kawulaku, kerabatku serta saya sendiri.Sejak saat itu daging tersebut diharamkan oleh sombayya.
Bila kita lihat cerita diatas, cerita ini dibuat oleh oleh leluhur-leluhur kita pada masa-masa permulaan masuknya Islam di Sulsel. Dimana pada waktu itu, orang-orang menerka-nerka saja kenapa ini diharamkan, kenapa itu diharamkan. Yach begitulah leluhur kita dalam menapsirkan pengharaman babi ini. Mereka membuat penafsiran sendiri yang tidak berdasar kepada sumber yang terpercaya. Dan jadilah cerita diatas.
Padahal dalam Qur’an tidak begitu. Dan bertolak belakang sama cerita diatas. Tapi kita harus memaklumi cerita yang agak menyesatkan diatas, karena dengan cerita tersebutlah leluhur-leluhur kita menambatkan keyakinannya terhadap larangan dan perintah Islam. Nah yang salah bila pada zaman kekinian, kita membuat penafsiran terpisah diluar pedoman Qur’an dan hadizt. Subhanallah.
Baca juga:

Kalau berkenan kunjungi juga blognya juniorku
BUDHY BLOG