• Subscribe via RSS

MEMAKNAI PROKLAMASI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA YANG KE-65 TAHUN





Ada kesan sebagian masyarakat Indonesia tentang pengeboman Hiroshima pada 6 Agustus 1945, melahirkan bangsa Indonesia Merdeka. Penyerahan diri Jepang tanggal 15 Agustus 1945, yang tersa agak mendadak, menyebabkan balatentara Amerika Serikat segera menuju ke Jepang, sedangkan baik Australia maupun Inggris belum siap memasuki Indonesia dari Timur dan Barat. Oleh karena itu pemerintah Hindia-Belanda dalam pelarian di Australia tidak dapat membonceng salah satu kekuatan untuk menguasai Indonesia dengan segera.

Akan tetapi pendapat sebagian masyarakat itu mungkin sedikit meleset, karena pada dasarnya pengeboman Hiroshima dan Nagasaki hanya mempercepat Indonesia Merdeka. Tampa dijatuhkan bom atom di Jepang, negeri itu akan menyerah juga dalam beberapa minggu. Angkatan laut dan udaranya telah hancur-lebur, dan mereka inilah yang mendesak penyerahan diri, tetapi ditentang oleh angkatan daratnya yang ingin berperang terus sampai titik darah penghabisan, tawaran perdamaian dari Jepang sudah dipersiapkan dengan perantaraan kedutaan besarnya di Moscow, dan sedianya kekaisaran diwakili oleh Pangeran Konoye. Hanya menteri luar negeri Molotov tidak berhasil ditemui karena kesibukannya dengan perundingan Postdam, yang kemudian sengaja ditunda-tunda, sehingga akhirnya Uni Soviet mengumumkan perang terhadap Jepang sambil menyerbu Manchuria.

Pengeboman Nagasaki sebetulnya juga tidak perlu karena Jepang sudah menyerah kalah sesudah melihat akibat bom atom di Hiroshima. Hanya ada idiom Jepang dalam siaran pemerintahnya yang salah diartikan oleh Amerika Serikat. Rakyat Jepang sudah payah sekali, “runtung sumangami” kata orang Makassar. Mereka makan nasi dicampur labu dan ketela pohon. Di Hiroshima rakyat tidur di luar kota di waktu malam, sambil membawa rakit bambu mini untuk menyelamatkan diri dari api pengeboman atau untuk dipakai kalau Amerika Serikat mengebom bendungan besar sehingga Hiroshima kebanjiran. Tokyo dan beberapa kota lain sudah rata oleh carpet bombing B-29, yang dikenal sebagai benteng terbang. Persenjataan sudah sangat kurang, hanya ada sepucuk senapan untuk 10 prajurit dan sebilah bayonet untuk 8 prajurit; yang lain dipersenjatai dengan bambu runcing. Barisan berani mati Kamikaze direkrut terus untuk menghadapi pendaratan di pulau Kyusyu.

Jepang sebetulnya hanya ingin Sang kaisar, Tenno Heika, tidak diganggu-gugat dan tidak dituntut sebagai penjahat perang. Menyerah dengan tidak bersyarat pun tak apa-apa. Amerika Serikat sudah mengumumkan bahwa Jepang tidak akan diperbudak, hanya Tenno Heika mereka tidak eksplisit. Enam besar (terdiri atas 4 orang menteri dan 2 panglima) telah diminta dengan segera oleh kaisar untuk meminta Uni Sovyet sebagai perantara pengakhiran perang.

Sekarang ada orang Jepang sendiri yang menganggap Hiroshima dulu dipakai sebagai pangkalan penyerbuan ke Asia Tenggara, sehingga sebagian anggota IPPNW (Dokter-dokter Internasional Untuk pencegahan Perang Nuklir) Jepang merasa Hiroshima pantas dibom atom. Sekarang ada pangkalan Amerika Serikat di Hiroshima, dan pemerintah Jepang sendiri belum pernah meminta maaf kepada bangsa-bangsa Asia Tenggara atas kekejamannya selama pendudukan, seperti mereka telah meminta maaf pada Korea dan Cina. Pada tahun 1990-an Perdana Menteri Kaifu baru memohon maaf dalam kunjugannya ke Asia Tenggara. Korban orang Korea dalam pengeboman Hiroshima cukup banyak, karena mereka dibawa sebagai buruh pabrik ke Jepang, dan penderitaan mereka kurang mendapat perhatian Jepang selama ini.

Kalau Presiden Truman mendengar petisi 60 ahli nuklir (yang mungkin tidak sampai ke tangannya) dan tidak menjatuhkan bom atom di Jepang, Indonesia pasti akan merdeka juga. Pemerintah militer Jepang sedang membicarakan untuk memerdekakan beberapa negeri yang didudukinya dalam lingkungan kemakmuran Asia Timur Raya, seperti Filipina. Kalau itu pun tidak terjadi, Indonesia juga akan merdeka sesudah Jepang menyerah, meskipun tidak pada tahun 1945. Perang dapat tertunda usianya dan ini akan menelan korban tambahan, misalnya romusha, dan pembunuhan cendikiawan seperti di Kalimantan Barat akan meluas. Kekejaman menjelang takluk biasa terjadi.

Kaum kolaborator memang banyak yang ketakutan, kalau Sekutu sempat masuk sebelum Indonesia Merdeka. Lebih-lebih mereka yang menjemput Jepang ke tanah Melayu dan membantu Jepang mengerahkan romusha atau sebagai mata-mata Kenpeitai menghianati kompatriotnya. Pemberontakan kecil-kecilan telah banyak terjadi di banyak tempat, bahkan sejak awal Jepang masuk, baik oleh kalangan agama maupun nasionalis. Prilaku serdadu Jepang dengan Konpeitai yang tidak tahu peri kemanusiaan, rumah rekreasi prajurit, mabuk-mabukan di jalan, mandi bugil beramai-ramai di tepi jalan, banyak menimbulkan amarah rakyat. Belum lagi tindakan pemerintah angkatan darat atau laut mengumpulkan emas dan intan serta beras, dan kinro hoshi (gotong-royong paksa), peransuman sagu dan jagung kualitas rendah, dan penelantaran romusha. Semuanya itu untuk memenangkan Perang Asia Timur Raya.

Romusha ( hastakaryawan paksa) dicari-cari dari desa-desa dengan semboyan bela tanah air dan juga diambil dari kuli-kuli kontrak dari perkebunan yang tidsk terurus. Banyak di antara mereka yang mati kelaparan atau dibunuh karena tidak berguna lagi dalam membangun lapangan terbang militer dan jalan strategis. Ada pula yang melarikan diri dan bersama bekas kuli kontrak yang berkeliaran akhirnya begeletakan di tepi jalan atau kaki lima, dengan busung lapar, badan berkudis, dan berpakaian karung goni. Penduduk yang agak berada mengambil beberapa orang yang masih agak kuat untuk bekerja disawah, kebun atau ladang, sehingga selamat dari maut.

Sayang untuk mereka ini tidak ada yang mendirikan monumen, karena mereka hanyalah orang-orang kecil. Padahal mereka telah menjadi tumbal bangsa terhadap Jepang; karena merekalah kita yang lain dapat selamat. Kita tidak perlu malu kalau penderitaan mereka tidak kita kenang dengan mendirikan sekedar monumen yang berguna bagi rakyat kecil. Rakyat Jepang tidak akan keberatan atau memprotesnya. Bangsa yang beradab adalah yang tahu dan menghargai tumbal-tumbalnya.

Tidaklah mengherankan kalau dalam suasana akhir akhir perang Dunia II negara kita didirikan atas azas Pancasila yang memperhatikan agama, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan. Pada setiap memperingati ulang tahun kemerdekaan kita masing-masing apakah kita benar-benar menghayati Pancasila dan bekerja sesuai dengan azas pancasila itu tiap hari, tidak hanya pada hari Senin atau tanggal 17. Apakah kita benar-benar sudah menjadi penghayat, tidak hanya penghafal Pancasila, yang hanya pintar menjawab dengan cepat Musabaqah Cerdas Cermat Pancasila. Apakah kita selalu berusaha mencapai cita-cita Pancasila dengan cara-cara yang selaras dengan Pancasila. Adalah mengamalkan bagi orang lain, kalau kita membela Pancasila dengan melanggar sila kedua umpamanya. Apakah hukum, keadilan dan bangsa yang beradab yang kita cita-citakan sejak zaman penjajahan sudah sanggup ditegakkan?. Kita bisa bersembunyi dibalik alasan klise bahwa menegakkan keadilan dan membangun bangsa beradab tidak semudah membalikan telapak tangan, tetapi kita harus berani melihat apakah ada kemajuan dalam menegakkan hukum dan keadilan tampa pandang bulu atau tidak menggunakan cara tebang pilih, serta membangun masyarakat beradab sangat mendesak untuk segera terealisasi.

Adalah peristiwa aktual di zaman reformasi sekarang ini harus dimaknai dengan Pancasila, berketuhanan, berprikemanusiaan, persatuan nasional, bermusyawarah dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bukankah sejarah itu dihadirkan kembali untuk menuntun kita ke jalan yang lebih baik dan tidak jatuh kelubang kesalahan yang sama. Dan agaknya sekarang ini kadar Pancasila itu kian menipis di tengah bangsa kita, misalnya segelintir media sekarang membesar-besarkan masalah teror peledakan Gas 3 Kg, dan opini itu digiring untuk mempersetan kebijakan pemerintah dalam konversi minyak tanah ke gas. Padahal kalau kita mau jujur sedikit, program konversi ini sudah cukup mengena dalam masyarakat, bukankah masyarakat yang sebelumnya tidak pernah merasakan praktisnya memasak dengan kompor gas, kini telah merasakannya?, dan dengan memasak dengan kompor gas juga lebih bersih dan juga terjangkau oleh segala lapisan masyarakat. Terlepas diberbagai daerah ada ledakan tabung gas 3 kg, tapi disatu sisi kita harus memperhatikan bahwa tabung gas 12 kg juga meledak, dan bukankah sebagian besar penyebab meledaknya tabung gas tersebut adalah faktor “penyalahgunaan”-nya. Bukankah program konversi gas ini sudah mengamalkan sila ke-5 pancasila- keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Secara spesifik berarti keadilan pemakaian gas sebagai peralatan memasak bagi seluruh rakyat Indonesia tampa terkecuali, bukan seperti dulu yang hanya dinikmati oleh kalangan menengah keatas.

Lain lagi dengan berita di media yang sangat heboh, yakni soal video mesum beberapa orang artis. Dan pada persoalan ini berbagai opini timbul. Tapi satu sebenarnya yang menjadi inti dari permasalahan ini, yakni ternyata moral bangsa ini telah jauh melorot, Pancasila seakan sudah tidak dimaknai lagi, terutama kepada sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, bukankah semua agama melarang perselingkuhan, bukankah semua agama mengutuk tindak asusila?. Namun orang yang banyak dielu-elukan oleh berbagai kalangan membuat video seronoknya yang dengan bebas ditonton oleh siapa saja. Terlepas apakah memang AP, LM, dan CT atau hanya mirip mereka. Namun pengungkapan oleh pihak berwajib memang mengarah kepada mereka. Memang kita sebagai bangsa yang Pancasilais harus benar-benar kembali kenilai-nilai luhur kita, kalau ingin menjadi bangsa yang besar dan beradab sesuai yang dicita-citakan oleh para pendahulu kita.

Akhirnya lewat tulisan ini, perlu kita sadarkan kembali kepada bangsa ini agar benar-benar kembali ke Pancasila, memang Pancasila bukan agama atau kepercayaan, namun pancasila adalah dasar negara kita, falsafah hidup bangsa kita dan merupakan wadah bangsa kita yang berbeda latar belakang agama, suku dan pandangan politik. Apalagi saat ini moment memperingati Proklamasi kita yang ke-65, saatnya bangsa ini mereformasi diri kearah yang lebih beradab, dan khusus buat umat Islam yang notabenenye mayoritas dari bangsa ini, moment mereformasi diri itu lebih berkah, karena moment Proklamasi kemerdekaan Indonesia itu bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Dan untuk bumi Pancasilaku, tegarlah dalam menghadapi kenyataan-kenyataan pahit ini, karena kami anak bangsamu akan berusaha mereformasi diri dan memperbaiki segala lukamu, tetaplah tegar Pancasilaku tetaplah utuh Indonesiaku.***

Description: MEMAKNAI PROKLAMASI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA YANG KE-65 TAHUN Rating: 5.0 Reviewer: Amir Al-Maruzy ItemReviewed: MEMAKNAI PROKLAMASI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA YANG KE-65 TAHUN
Komentar Anda Adalah Sumbangsih Yang Tak Ternilai Untuk Kata Ilmu
previous previous