Makalah : Kenang - kenangan History UNM 2003

Makalah : Kenang - kenangan History UNM 2003Sahabat Sekalian, pada kesempatan kali ini Kata Ilmu akan share artikel mengenai Contoh Makalah, dan contoh makalah kali ini adalah  tentang beberapa kebudayaan di Sulawesi Selatan. 
Pendahuluan
Kebudayaan adalah hasil manusia baik yang bersifat materi, maupun yang nonmateri. Seperti detailnya bahwa kebudayaan itu mempunyai tujuh unsur, yakni sistem mata pencaharian hidup (ekonomi); peralatan hidup (tehnologi); ilmu pengetahuan; sistem sosial; bahasa; kesenian; dan sistem religi. Jika dihubungkan dengan sejarah, maka kebudayaan sangat erat kaitannya karena sejarah adalah suatu ilmu yang selalu membahas ketujuh unsur kebudayaan dilihat dari segi “time”nya. Jadi detailnya jika kita melihat kebudayaan dari kaca mata sejarah, berarti dalam pembahasannya kita akan mencoba membahas sejumlah peninggalan-peninggalan kebudayaan yang tersebar di seluruh Nusantara ini. Bertolak dari latar belakang ini kami akan mencoba mendeskripsikan beberapa peninggalan kebudayaan yang terdapat di Bumi Celebes. 
Perjalanan Ilmiah Bagi Mahasiswa Sejarah Berkunjung kesuatu tempat bersejarah diera modern seperti sekarang ini, tampaknya sering dimaknai sebagai pekerjaan membuang-buang waktu tampa ada makna yang dapat diperoleh padanya. Itu adalah pendapat pesimis segelintir orang, tetapi bagi pelajar, mahasiswa serta masyarakat ilmiah, perjalanan ilmiah ini adalah kesempatan yang sangat berharga. Betapa tidak, kondisi sosio kultural peninggalan kebudayaan Celebes yang sebelumnya hanya dibaca melalui buku, serta jurnal, kini dapat dilihat dan diamati secara langsung. Itulah sebabnya Mahasiswa Jurusan Sejarah Fakultas ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Negeri makassar mempunyai Ritual Wajib yakni perjalanan ilmiah ke situs tertentu yang dilaksanakan satu kali pada setiap semester (semester I sampai semester V). Hal ikhwal mengenai karakteristik sosial kultural bahkan historis dari peninggalan kebudayaan di Bumi Celebes ini sangat menarik untuk dikaji secara khusus, hal ini terutama jika dihubungkan dengan tujuh unsur kebudayaan yakni: ekonomi; tehnologi; knowledge; sistem sosial; language; art dan sistem religi. Tujuan ilmiah yang diharapkan yakni menanamkan nilai-nilai kultural sesama serta melestarikan aneka budaya sebagai salah satu identitas bangsa Indonesia. Dalam kaitan dengan pentingnya mengetahui aspek-aspek lokalitas baik sosial maupun budaya, maka kami mencoba merekam sedikit perjalanan ilmiah kami. Perjalanan ilmiah ini sesungguhnya wajib bagi setiap kaum pelajar maupun kaum umum sebagai wujud untuk mencintai budaya sendiri yang seolah mulai terusik oleh arus budaya luar.
Bahkan gerakan ilmiah semacam ini dapat berfungsi sebagai media efektif untuk mengetahui kearifan lokal apa saja yang perlu dihadirkan kembali dalam konteks kehidupan kekinian terutama dalam mewujudkan integrasi nasional. Lalu bagaiman keunikan yang tampak pada peninggalan kebudayaan di Bumi Celebes.
Isi
Beberapa Peninggalan Kebudayaan di Bumi Celebes
Dalam beberapa perjalanan ilmiah yang dilaksanakan yakni perjalanan sebagai berikut:
  • Perjalanan Ilmiah I. Perjalanan ini dilaksanakan pada tanggal 17-18 Oktober 2003, lokasinya bertempat di kabupaten Soppeng dan kabupaten Bone.
  • Perjalanan Ilmiah II. Perjalanan ini dilaksanakan pada tanggal 23-25 Mei 2004, lokasinya bertempat di kabupaten Bone, kabupaten Sinjai, kabupaten Bulukumba, kabupaten Bantaeng dan kabupaten Jeneponto.
  • Perjalanan Ilmiah III. Perjalanan ini dilaksanakan pada tanggal 03-05 Desember 2004, lokasinya bertempat di kabupaten Tana Toraja.
  • Perjalanan Ilmiah IV. Perjalanan ini dilaksanakan pada tanggal 29-01 April-Mei 2005, lokasinya bertempat di kabupaten Sinjai dan kabupaten Bulukumba.
  • Perjalanan Ilmiah V. Perjalanan ini dilaksanakan pada tanggal 08-11 desember 2005, lokasinya bertempat di kabupaten Selayar.
Dalam perjalanan ilmiah yang kami laksanakan seperti yang diatas, maka kami akan mendeskripsikan beberapa peninggalan kebudayaan yang ada di Bumi Celebes sebagai berikut:
Benteng Balangnipa
Jenis Situs : Sarana pertahanan
Lokasi
Desa/Kelurahan : Balangnipa
Kecamatan : Sinjai Utara
Kabupaten : Sinjai
Deskripsi
Benteng Balangnipa dibangun oleh kerajaan TellulimpoE (Tondong, Lamatti dan Hulo-Hulo). Setelah Kolonial Belanda memasuki daerah Sinjai, benteng ini kemudian direbut. Benteng ini berasitektur gaya Eropa.
Benteng ini pernah menjadi saksi akan pertempuran heroikRumpa’na Mangarabombang yakni pertempuran antara pejuang Sinjai dengan penjajah Belanda, dan akhirnya benteng ini kemudian berhasil direbut oleh Belanda.
Benteng ini pada mulanya difungsikan sebagai pertahanan sesuai dengan peruntukannya, namun kemudian fungsinya diubah menjadi Penjara, sehingga tempat ini kemudian dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Tarungku Towayya (Penjara lama), saat ini benteng Balangnipa difungsikan sebagai Museum.
Taman Purbakala Bukit batu Pake Gojeng
Jenis Situs : Taman Purbakala
Lokasi
Desa/Kelurahan : Biring Ere
Kecamatan : Sinjai Utara
Kabupaten : Sinjai
Deskripsi
Batu berpahat atau Sarkofagus ini dibuat oleh Andi Baso Batu Pake sendiri yang di kemudian hari ketika Ia meninggal, Ia, istrinya dan tujuh pelayannya dikubur disini. Disamping sarkofagus juga terdapat beberapa lumpang (lesung) batu yang berfungsi untuk menumbuk biji-bijian.
Dari dulu sampai sekarang situs ini dijadikan sebagai tempat untuk melakukan ritual oleh sebagian masyarakat Sinjai dan sekitarnya diantaranya dari manipi, kajang dan daerah lainnya.
Batu pake Gojeng sendiri berada dipuncak bukit dengan ketinggian 125 DPL, dipinggir kota Sinjai. Kalau kita berada ditempat ini maka kita dapat memandang keindahan kota Sinjai dipesisir teluk Bone yang dilatarbelakangi oleh gugusan pulau sembilan kabupaten Sinjai.
Komunitas Adat Karampuang
Jenis Situs : Perkampungan Adat
Lokasi
Desa/Kelurahan : Mangopi
Kecamatan : Bulupoddo
Kabupaten : Sinjai
Deskripsi
Komunitas adat karampuang termasuk komunitas adat tertua yang ada di Sulawesi selatan, karena warganya masih menganut kebudayaan lokal mereka, meskipun secara geografis komunitas ini telah memungkinkan untuk bersentuhan dengan budaya luar dan mengadopsai modernisasi, justru tidak membuat mereka terpengaruh terutama dalam sistem kepercayaan.
Dalam tradisi karampuang aktivitas kepemimpinan masyarakat berada ditangan empat tokoh adat yakni: Arung, Gella, Sanro, dan Guru. Keempat elemen ini digambarkan sebagai api tettong arung (api berdiri arung), tana tudang ada’ (tanah duduk adat), anging rekko sanro (angin membelokkan orang pintar)sertawae suju’ guru (air mensucikan imam). Kolaborasi keempat tokoh ini diberi predikat sebagai a’liri tetepona hanuaE (empat tiang rumah). Secara fisik dipusat komunitas ini terdapat dua rumah purba yang unik. Kedua rumah ini dijadikan sebagai tempat upacara komunitas disana. Rumah ini unik karena masih mempunyai bentuk asli seperti pertama kali dibangun beberapa ratus tahun yang lalu. Komunitas karampuang sendiri pada zaman perang Gowa-Bone merupakan daerah yang dijadikan penasehat atau daerah yang dijadikan sebagai daerah netral antara Gowa dan Bone.
Museum Lapawawoi
Jenis Situs : Museum Daerah
Lokasi
Desa/Kelurahan : Watangpone
Kecamatan : Tanete Riattang
Kabupaten : Bone
Deskripsi
Bangunan ini dibangun pada masa pemerintahan raja Bone ke-32, bangunan ini merupakan bekas istana raja Bone ke-32, Andi Mappanyukki serta raja-raja sesudahnya.
Saat ini bangununan tersebut difungsikan sebagai museum yang menyimpan benda-benda bersejarah di kabpaten Bone.
Keunikan bangunan ini karena penutup bagian depan (timbasila) bersusun lima, menandakan bangunan ini adalah kediaman bangsawan tulen Iarung Ti’no). bangunan ini terletak di pusat kota Watangpone.
Kompleks Makam Kalokoe
Jenis Situs : Makam
Lokasi
Desa/Kelurahan : Bukaka
Kecamatan : Tanete Riattang
Kabupaten : Bone
Deskripsi
Makam ini dibangun oleh pengganti raja Bone ke-24, untuk menghormati raja sebelumnya, pada kompleks makam ini disemayamkan raja-raja Bone diantaranya La Maddaremmeng Mattinroe ri Bukaka, Arung Pone ke-13; Batari Toja Talaga Sultanah Zaenab Sakiahtuddin, Arung Pone ke-17 dan 21; serta beberapa pembesar bone lainnya.
Kedua makam utama ini berbentuk kubah, makam ini biasanya dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai daerah di tanah Bugis.
Rumah Adat Bola Soba’
Jenis Situs : Rumah Adat
Lokasi
Desa/Kelurahan : Watangpone
Kecamatan : Tanete Riattang
Kabupaten : Bone
Deskripsi
Saoraja petta Punggawae Bola Soba’ sampai saat ini belum diketahui siapa yang pertama kali membangunnya, tapi menurut cerita rakyat setempat, Bola Soba’ dibangun oleh “mahluk gaib” hanya dalam satu malam saja atas perintah Arungpone, entah benar atau tidak?.
Bola Soba’ pada masa kerajaan Bone merupakan istana Arungpone, disinilah Arungpone beserta pembantunya menyusun siasat perang. Saat ini Bola Soba’ difungsikan sebagai tempat melaksanakan ritual keagamaan Pattoe. Pada bagian belakang ruangan di Bola Soba’ ini ditempati oleh komunitas Bissu (pendeta Sure Galigo).
 Kompleks Makam Raja-raja Binamu
Jenis Situs : Pemakaman
Lokasi
Desa/Kelurahan : Bontoramba
Kecamatan : Bontoramba
Kabupaten : Jeneponto
Deskripsi
Makam ini dibuat untuk peristirahatan terakhir raja-raja di Binamu Jeneponto, diataranya makam raja Binamu Karaeng Mallengkei Daeng Labbu.
Makam-makam yang terdapat ditempat ini menurut ukurannya, secara garis besar terbagi tiga, yakni:
 Ukuran besar: 336 x 180 x 285 cm s/d 235 x 160 x 115 cm.
Ukuran sedang: 230 x 150 x 100 cm s/d 150 x 90 x 50 cm.
Ukuran kecil: 157 x 80 x 45 cm.
Dari segi bentuknya terbagi empat, yakni:
Bentuk manusia;
Bentuk phallus/topi baja;
Bentuk gada;
Bentuk pipih.
Makam Dato Di Tiro
Jenis Situs : Pemakaman
Lokasi
Desa/Kelurahan : Eka Tiro
Kecamatan : Bonto Tiro
Kabupaten : Bulukumba
Deskripsi
Makam Datu Di Tiro terbuat dari kayu hitam berukir, meskipun nisannya goyang tapi konon tidak ada orang yang bisa mencabutnya. Makam ini tidak seperti makam-makam pada umumnya, sebab pada makam ini bukan jasad Dato Di Tiro yang disemayamkan, melainkan hanya tempat Datu Di Tiro massajang (menghilang).
Datu Di Tiro sendiri adalah salah satu dari tiga ulama yang berasal dari Swarna Dwipa (Sumatera) yang datang ke Sulawesi Selatan untuk mengislamkan orang-orang disana.
Komunitas Adat Ammatoa Kajang
Jenis Situs : Perkampungan Adat
Letak
Desa/Kelurahan : Tana Toa
Kecamatan : Kajang
Kabupaten : Bulukumba
Deskripsi
Komunitas adat Ammatoa kajang mempunyai keunikan tersendiri, yakni berpakaian serba hitam pertanda bahwa mereka sukar untuk dipengaruhi orang luar seperti halnya warna hitam pakaian mereka.
Bahkan ketentuan mengenakan pakaian serba hitam berdasarkan adat tersebut, juga diberlakukan pada orang luar yang mengunjungi komunitas tersebut. Simbol kesederhanaan juga tampak pada perabot rumah yang masih bercorak tradisional, kesederhanaan ini merupakan refleksi dari pesan Ammatoa bahwa: …..jika seandainya bumi Ammatoa ditakdirkan kaya, maka sayalah yang paling terakhir merasakan kaya, sebaliknya bila ternyata Bumi Ammatoa ditakdirkan miskin maka sayalah yang akan pertama kali merasakan miskin……”.
Karena itu, bentuk rumah berdasarkan pasang adalah: tiang rumah tertanam kedalam tanah sekitar 1 meter; tidak boleh lebih dari tiga pa’daserang (petak); pintu berada ditengah dinding bagian depan; tiang rumah hanya empat baris dari samping; jendela tidak boleh terlalu lebar, dinding terbuat dari rinring te’de (bambu bilah); tidak boleh memakai dinding tengah kecuali dinding petak bagian belakang yang biasanya digunakan sebagai kamar para gadis atau kamar pengantin baru; dan masih banyak keunikan lainnya.
Untuk menobatkan sang pemimpin Ammatoa dilaksanakan upacara pembakaran kemenyan dan pelepasan ayam, barangsiapa yang ditiupi oleh asap kemenyan tadi atau dihinggapi oleh ayam yang dilepaskan, maka ia berhak menjadi Ammatoa. Upacara ini sendiri dilaksanakan di tengah hutan terlarang dan tidak bisa disaksikan oleh orang luar komunitas.
Upacara yang lain antara lain: A’dangang (pesta kematian);A’kattere’ (Hakikah);A’dampe (syukuran) serta A’tunu passau(membakar linggis).
Dalam memimpin masyarakatnya, Ammatoa dibantu oleh beberapa anggota dewan adat atau lebih dikenal dengan sebutanada’ lima, yaitu: galla pantama’galla lompogalla anjurugalla puto; dan galla kajangAda juga perangkat lainnya yang sering disebutada’ tallua yakni: karaeng kajang; sulehattang dan Moncong Buloa
Kawasan adat tempat Ammatoa berdomisili dikenal dengan sebutan Ilalang embayya (didalam garis yang sama sekali tidak dapat dipengaruhi oleh sedikitpun budaya dari luar Ammatoa) dan pantarang embayya (diluar garis yakni kampung di kajang yang boleh mengadopsi sedikit pengaruh dari luar).
Masjid Tua Taqwa
Jenis Situs : Tempat Ibadah
Lokasi
Desa/Kelurahan : Letta
Kecamatan : Bantaeng
Kabupaten : Bantaeng
Deskripsi
Masjid Tua Taqwa dibangun pada masa pemerintahan La Tenri Ruwa raja bantaeng ke-12, la Tenri Ruwa sendiri adalah raja Bone yang diusir dari kerajaannya karena mencoba mengajarkan Islam di Bone. Ia akhirnya melarikan diri ke bantaeng kemudian dinobatkan menjadi raja Bantaeng.
Masjid ini dibangun pada tahun 1612, kemudian dipugar pada tahun 1887 oleh seorang pedagang yang berasal dari daerah Wajo, Haji Labandu Wajo.
Pada kubah masjid terdapat guci yang kira-kira dibuat pada zaman Dinasti Ming di Cina. Guci ini sendiri dibawa oleh para pedagang Cina ke Bantaeng, menurut cerita yang berkembang pada masyarakat setempat, dalam guci tersebut terdpat bongkahan emas murni.
Masjid ini mempunyai 12 tiang, sebagai simbol dari Bate Sampuloanrua (Dewan adat yang dua belas).
Balla Tembo’ Towayya
Jenis Situs : Rumah Adat
Lokasi
Desa/Kelurahan : Letta
Kecamatan : Bantaeng
Kabupaten : Bantaeng
Deskripsi
Balla Tembo Towayya (rumah tembok tua) ini dibangun oleh raja Bantaeng ke-2 Massaniga Maratuang pada abad ke-13. Pada zaman kejayaan kerajaan Bantaeng, rumah ini berfungsi sebagai istana raja. Mulai dari raja ke-2 Massaniga Maratuang, sampai kepada raja ke-32 Karaeng Pawilloi.
Disamping itu, rumah ini dijadikan sebagai tempat besidang Bate Sampuloanrua (adat dua belas). Adat dua belas itu antara lain: Jannang Bissapole; Jannang Mappilawing; Jannang Tanga-tanga; Jannang Bungungloe; Jannang Mamampang; Jannang Katapang; Jannang Morowa; Jannang Ti’no; Jannang Tabaringang; Jannang Karunrung dan dua jannang lainnya.
Kompleks Makam La Tenri Ruwa
Jenis Situs : Pemakaman
Lokasi
Desa/Kelurahan : Pallantikang
Kecamatan : Bantaeng
Deskripsi
Kompleks makam la Tenri Ruwa adalah kompleks peristirahatan terakhir raja-raja bantaeng, termasuk makam raja Bantaeng, La Tenri Ruwa.
Pada kompleks makam ini terdapat kurang lebih 190-an buah makam yang terbuat dari batu cadas dan batu pahat.
Dilihat dari segi orientasi makam, maka dipemakaman ini terdapat dua macam, yakni:
Menghadap utara
Menghadap utara tandanya orang yang dimakamkan adalah orang-orang yang sudah memeluk agama Islam.
Menghadap barat
Menghadap barat, tandanya orang yang dimakamkan adalah orang-orang yang belum memeluk Islam.
Dari bentuk makamnya terbagi tiga, seperti:
Berbentuk kubah, yang dimakamkan adalah bangsawan dari golongan karaeng ti’no;
Berbentuk jirat semu susun timbunan batu, yang dimakamkan adalah bangsawan dari golongan karaeng sipue;
Berbentuk jirat biasa, yang dimakamkan adalah dari golongan tomaradeka (orang kebanyakan). 
Kesimpulan
Dari hasil pemaparan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa di bumi Celebes atau provinsi sulawesi selatan menyimpan banyak peninggalan sejarah dan budaya yang membuktikan bahwa sejak zaman dulu, kebudayaan tinggi dan agung terdapat di wilayah ini.
Demikianlah artikel mengenai Makalah: Kenang kenangan Hstory UNM 2003, semoga artikel ini dapat memebrikan informasi yang bermanfaat bagi kita semua.[ki]