KELELAWAR MENCARI MATAHARI


kelawar

Suatu malam seekor kelelawar terdengar berkata, “bagaimana kiranya aku dapat sejenak saja melihat matahari? dalam hidupku selama ini aku dalam putus asa sebab tidak sejenak pun aku dapat menenggelamkan diri dalam cahayanya. Berbulan-bulan dan bertahun-tahun aku telah terbang kesana kemari dengan mata tertutup, dan disinilah aku!”. Suatu mahluk perenung berkata, “ kau diliputi kesombongan, dan kau masih harus beribu-ribu tahun lagi mengembara. Bagaimana dapat mahluk seperti kau ini menemukan matahari? Dapatkah seekor semut mencapai buah?”, “meskipun demikian”, kata kelelawar itu, “aku akan terus mencoba.” Dan demikianlah beberapa tahun ia terus mencari hingga ia tak punya kekuatan maaupun sayap lagi. Karena ia tak juga menemukan matahari, ia berkata, “mungkin aku telah terbang lebih jauh diatasnya.” Seekor burung yang bijak, setelah mendengar itu, berkata, “ kau hidup dalam mimpi; kau hanya berputar-putar saja selama ini dan tak maju selangkah pun; dalam kesombongannmu kaukatakan bahwa kau telah pergi lebih jauh diatas matahari!” ini amat mengejutkan si kelelawar yang setelah menginsyafi kedaifannya lalu merendahkan diri sama sekali dengan mengatakan, “kau telah bertemu dengan seekor burung yang punya penglihatan bathin, maka jangan teruskan”.***