Hilangkan “Borok” Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra)


Hilangkan Borok Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) - kali ini saya akan share sedikit tentang Paskibra. Paskibra atau Pasukan Pengibar Bendera, terlihat tegap pada gegap gempita baris berbaris membawa Sang Saka Merah Putih untuk dikibarkan di angkasa Indonesia. Dari seragamnya yang putih menandakan kesucian hati dan keimanan jiwa, memakai peci khas Indonesia melambangkan bahwa dia generasi muda Indonesia yang berbudaya dan beretika. Hampir semua siswa sekolah menengah pastilah memimpikan dan mengidam-idamkan untuk menjadi Paskibra. Tapi tidak serta merta siswa bisa terpilih menjadi anggota Paskibra, sederet seleksi harus ditempuh dulu untuk menjadi Paskibra. Baik dari segi fisik maupun psikis, dan yang lebih penting adalah harus mempunyai ahlak yang baik.
Ahlak dan moral yang baik antara lain mencakup mentaati kewajiban agama yang dianutnya; berbudi pekerti luhur serta mempunyai tingkah laku baik dalam masyarakat; serta memahami, mempunyai dan melaksanakan etika, sopan santun pergaulan yang baik. Wah.. ternyata menjadi Paskibra disamping gagah-gagah dan anggun-angun, juga adalah manusia insan yang berbudaya dan beretika yang dibutuhkan oleh negara dan bangsa ini.
Paskibra sendiri di diperintahkan untuk diadakan oleh Presiden Soekarno pada Hari Ulang tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia yang pertama pada tahun 1946. Presiden Soekarno waktu itu menunjuk Mayor (Laut) Husein Muntahar untuk menyiapkan pengibaran bendera pusaka di halaman Istana Gede Agung Yogyakarta. Muntahar kemudian berpikir untuk menyeleksi anak-anak SMA dari seluruh provinsi di Indonesia untuk digembleng menjadi Paskibra. Berhubung waktu itu masih dalam keadaan revolusi fisik, maka hanya 5 orang (3 Putra dan 2 Putri) yang mengusung bendera pusaka untuk dikibarkan pada HUT RI di Yigyakarta.
Seiring dengan membaiknya keadaan dan revolusi fisik telah berakhir, Paskibra dibagi menjadi tiga kelompok: Pasukan 17 sebagai pengiring, pasukan 8 sebagai pembawa atau inti dan pasukan 45 sebagai pengawal. Paskibra di Istana negara disebut pasukan Pengawal Bendera Pusaka (Paskibraka). Selain di istana Negara, diseluruh Provinsi, Kabupaten, Kecamatan dan sekolah-sekolah di bentuk Paskibra setiap tahun untuk mengibarkan bendera pada peringatan HUT kemerdekaan Republik Indonesia dan hari besar nasional lainnya.
Ketika Paskibra Mulai “tercoreng”
Namun dibalik kewibawaan Paskibra ini, ternyata ada “borok” besar didalamnya. Saat ini media ramai membicarakan Pasukan Pengibar Bendera ini. Namun bukan kerena kegagahan atau keanggunannya, bukan pula sederet prestasi personil Paskibra ini yang dibicarakan. Yang lagi hangat-hangatnya sekarang adalah Paskibra bugil.
Seperti yang diberitakan harian Kompas edisi 17/08/2010 bahwa orang tua Paskibra Angkatan 2010 DKI Jakarta memprotes kegiatan selama OK (Orientasi kepaskirakaan) di Cibubur tanggal 2 – 6 Juli 2010, menurut orang tua Paskibra ini, putrinya telah diperintahkan oleh Senior Paskibra (Oknum PPI) untuk berjalan telanjang dari barak kamar mandi ke barak tidur. Mengapa harus bugil? Bertenyaan ini pasti sentak keluar dari mulut kita tatkalah kita mendengar kabar ini. Disamping itu Paskib Junior Putra disuruh Push Up dingin (Push Up telanjang diatas tubuh temannya yang juga telanjang).
Padahal Presiden sendiri mengharapkan anggota Paskibraka (tentu semua Paskibra di seluruh Indonesia) agar menghindari lima sifat dan cara pandang yang buruk. Kelima sifat dan cara pandang yang buruk itu adalah skeptis dan pesimistis, jangan suka berfikir negatif dan sinisme, jangan pernah mengembangkan sifat dan sikap buruk sangka yang bisa meracuni pikiran dan hati kita semua, jangan terlalu mudah menyalahi pihak lain akan tetapi seringlah intropeksi untuk menemukan yang belum benar dan keliru serta koresi dan perbaikan serta jangan menjadi manusia yang tidak berimaan dan percaya tahayul serta hal-hal yang tidak rasional.(Kompas 15/08).
Patut digaris bawahi bahwa untuk bisa masuk menjadi Paskibra salah satu syaratnya seperti yang telah disebutkan sebelumnya, adalah mentaati kewajiban agama yang dianutnya; berbudi pekerti luhur serta mempunyai tingkah laku baik dalam masyarakat; serta memahami, mempunyai dan melaksanakan etika, sopan santun pergaulan yang baik. Agama manapun tidak membenarkan umatnya untuk bugil dan dilihat oleh sesamanya, termasuk sesama jenisnya. Apakah dengan menyuruh berjalan/berlari bugil dengan dilihat oleh Senior (Senior Putri). Apakah ini budi pekerti luhur?, apakah ini etika, sopan santun yang baik?. Tentu saja pembinaan seperti ini tidak bisa ditolerir. Apalagi Presiden SBY sendiri menegaskan kembali bahwa paskibra itu harus menjauhi lima poin, diantaranya jangan menjadi manusia yang tidak beriman.
Bukankah pendidikan kesamaptaan Paskibra itu bertujuan untuk membentuk sikap, kepribadian, etika, integritas, kerjasama serta ketahanan mental dan fisik yang baik guna menunjang pelaksaan pengibaran bendera pada upacara HUT Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sampai saat ini memang soal ini masih menjadi polemik antara Paskibra senior dan Paskibra yunior beserta orang tuanya. Paskib senior berdalih tidak ada pelecehan selama Orientasi Kepaskibraan (OK) CAPASKA (Calon Paskibra) 2-6 Juli 2010 lalu di Cibubur. Namun dilain pihak orang tua Paskibra angkatan 2010 ngotot agar masalah ini di usut tuntas, ditambah pengakuan satu persatu Paskibra 2010 bahwa dalam OK tersebut memang ada berbagai pelecehan, mulai berbaris dan berjalan bugil bagi yang putri, adanya push up dingin (push up telanjang diatas tubuh temannya yang juga telanjang) bagi Capaska Putra serta sederet pelecehan-pelecehan lainnya (Tribun Timur Edisi 21/08/2010).
Usut Dan Selesaikan Secara Tuntas
Sungguh ironis memang kalau persoalan ini tidak segera di selesaikan secara tuntas. Kalau perlu oknum Paskibra senior DKI Jakarta yang terbukti melakukan pelecehan terhadap yunior-yunior mereka di majukan de meja hijau, agar ada efek jera bagi yang lainnya, baik di DKI Jakarta dan juga kepada seluruh Paskibra di Indonesia. Karena jika dibiarkan maka akan merusak citra Pasukan Pengibar Bendera ini, karena keberadaan Paskibra ini adalah untuk menunaikan tugas mulia, yakni mengibarkan sang Saka Merah Putih, bendera kebangsaan Indonesia, dan Bendera yang telah diperjuangkan para pahlawan kita dahulu dengan mengorbankan harta dan nyawa mereka.
Memang saat ini tim dari PPI (Purna Paskibra Indonesia) DKI Jakarta telah melakukan investigasi pada kasus pelecehan ini. Namun alangkah lebih baik, jika diturunkan juga tim investigasi independen,(LSM), dan hasilnya bisa dilaporkan kepada pihak yang berwajib bila memang telah terbukti ada pelecehan dalam OK Capaska DKI Jakarta.
Selanjutnya untuk pembinaan Orientasi Kepaskibraan (OK) kedepannya, di seluruh Indonesia harus diawasi oleh lembaga independen tertentu, agar tidak pernah lagi hal yang memalukan yang mencoreng generasi bangsa ini. Karena jkalau dibiarkan seperti ini, maka niscaya bangsa ini 10-20 tahun kedepan akan menjadi bangsa “Bar-barian” yang melupakan akar etika dan susilanya yang tinggi. Kasus Paskibra DKI jakarta lah yang baru terungkap, tidak tertutup kemungkinan Paskibra Daerah lainnya terjadi hal demikian. Persoalannya sekarang, kalau memang nantinya pelecehan yang terbukti, maka cukuplah ini yang terakhir terjadi. Mulai saat ini kita harus stop segala pelecehan-pelecehan dengan, apalagi pelecehan itu dilakukan kepada generasi-generasi muda kita. Katakan tidak untuk pelecehan-pelecehan apapun alasannya, karena itu akan meruntuhkan bangsa ini.***