Apa Kabar Korupsi hari ini

Apa Kabar Korupsi Hari Ini Kalau kita membicarakan masalah korupsi, maka kita akan teringat akan pejabat-pejabat rakus yang bermental tikus mengembat uang atau harta yang bukan menjadi bagiannya. Korupsi (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok). Secara harfiah, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka. Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi secara garis besar mencakup unsur-unsur sebagai berikut: perbuatan melawan hukum; penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana; memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi; merugikan keuangan negara atau perekonomian negara;. Dan menurut KBI Depdiknas Tahun 2008, Korupsi adalah perbuatan menggunakan kekuasaan untuk kepentingan sendiri (seperti menggelapkan uang atau menerima uang sogokan). Dari terminologi tersebut Korupsi dari pengertiannya saja adalah perbuatan haram dan dengki, apalagi kalau sampai dilaksanakan.
Sejarah korupsi sudah cukup panjang sejak ada sejarah tertulis. Pada tahun1300 SM telah ada hukuman mati bagi pejabat yang menerima suap. Di India pada abad ke-3 SM ada ahli yang mengurai 40 jenis suap. Dalam olimpiade zaman dulu sudah ada suap-menyuap sehingga menjadi juara ke-2 dan memerima suap dianggap lebih menguntukan daripada menjadi juara 1 (dan memberi suap). Sekarang ini korupsi adalah ancaman kepada semua negara, selain terorisme, global warning, kemiskinan, kebodohan serta ledakan penduduk. Korupsi dianggap sebagai penyakit yang berasal dari dunia ketiga. Ini tentu tidak benar karena kata korupsi berasal dari Eropa. Apa yang terjadi didunia Selatan sekarang sebetulnya sudah dialami Barat pada abad 18-19. Tetapi suatu masyarakat biasanya tak panjang ingatannya. Di Barat dulu juga terdapat pembelian jabatan, penyuapan untuk tetap memegang jabatan, bahkan pelelangan jabatan kolonial, yang merupakan sumber penghasilan yang menarik. Seperti dilakukan di Spanyol dan Belanda. Jabatan dianggap sebagai milik atau usaha dagang yang dimaksimisasi untuk memperoleh laba pribadi. Negara adalah obyek sapi perahan.
Kesetiaan sempit pada keluarga atau kelompok dianggap lebih tinggi daripada kesetiaan lebar pada negara dan bangsa. Kekeluargaan adalah salah satu ciri kebudayaan ketimuran dan ekonomi kerabat (Nepotisme) dikembangkan dalam birokrasi yang dianggap usaha dagang. Tindakan korupsi yang mendapat hukuman, bukan karena korupsi itu sendiri, tetapi karena caranya yang kurang selaras. Korupsi adalah sebagian dari hidup, kita harus berkoeksistensi dengannya, tetapi cara melakukannya harus serasi. Jadi yang dipersoalkan bukan adanya, tetapi bagaimananya. Dengan perkataan lain, dimana-mana dapat terjadi korupsi, asal individu korup. Jika kemerosotan moral individu ini menjalar menjadi kemorosotan moral masyarakat, maka korupsi merajalela dan menjangkiti di segala bidang, dan orang tidak tahu bagaimana dan darimana mulai membasminya.
Dalam negara lunak, korupsi dipakai sebagai alat penggalang kekuasaan dan untuk menstabilisasi kedudukan yang instabil dalam masyarakat demikian. Jabatan dapat ditarik tiba-tiba, seseorang dapat diganti dengan berbagai alasan yang dipaksakan.korupsi justru tidak dianggap destabilitatoris, tetapi tantangan korupsi-lah yang dilawan, karena ini dapat mendestabilsasi. Pejabat-pejabat akan membantah dengan keras bahwa ada korupsi, sedangkan orang yang tahu benar keadaannya hanya mengurut dada atau tertawa kecut dalam hati kecilnya. Kadang-kadang koruptor kelas Gajah pun dengan wajah tenang menganjurkan dimuka umum agar orang berlaku jujur.
Korupsi sendiri memang sukar dibuktikan karena tidak bersaksi dan dilakukan dengan canggih. Ada korupsi hitam, ada abu-abu dan bahkan ada yang putih. Yang hitam jelas melanggar hukum, yang abu-abu berada dipinggiran hukum(misalnya uang bensin), dan yang putih adalah kontroversial (misalnya komisi, uang kopi) atau terpaksa dilakukan (sesuatu yang sangat penting tidak dapat diperoleh kalau tidak menyuap). Pada masa reformasi saat ini, memang sudah banyak koruptor-koruptor kelas gajah di penjarakan termasuk besang dari Pak Beye sendiri. namun korupsi kecillah yang banyak dijumpai dimana-mana misalnya pegawai mengambil sehelai kertas untuk kepentingan pribadi dan ada setengah juta pegawai yang melakukannya setiap minggu, dapat dibayangkan betapa besarnya kerugian negara.
Korupsi pada hakekatnya adalah pengerukan harta negara oleh pegawainya. Ini mungkin karena salah mengartikan slogan bahwa pegawai adalah Abdi negara (budak, hamba negara) bukan abdi adalah negara dan rajanya adalah pegawai. Dalam masyarakat yang korup dimana-mana korupsi. Pungutan liar mulai kita berada didalam kandungan ibu (misalnya memesan tempat tidur dirumah sakit bersalin) sampai masuk kubur (membayar agar kubur kita tidak digusur), dan pada setiap detik diantaranya. Dengan mentoleransi penyebarluasan korupsi dengan konsetrasi pada pos-pos strategis dan dijaga stabilitas, agar kelompok yang tidak senang dan kuat tidak melakukan kudeta. Ini tentu saja tidak adil (Fair) bagi yang tidak mau atau tidak mampu mengadakan kup. Statement korupsi ini dapat diatur dengan seimbang sehingga sebagian besar puas.
Yang untung dalam korupsi tentu saja koruptor, keluarga beserta kelompoknya, serta orang-orang kaya. Selain untuk harta, korupsi juga membantu menjinakkan elite yang berkedudukan strategis dan mereka yang terbeli itu ditempatkan diantara massa dan penguasa. Seperti pada masa Orde lalu (Orde lama lebih-lebih Orde Baru) korupsi sudah menjadi budaya dari bapak Presiden sampai Pak Kepala Desa di kampung-kampung terpencil.
Tapi pada masa sekarang ini korupsi mulai “dijinakkan” sedikit demi sedikit, korupsi yang pada masa lalu hanya sekonyong-konyong antara halal dengan haram, namun kini korupsi sudah dianggap perbuatan yang diharamkan dan sangat tercela. Dikantor-kantor pemerintah dan swasta di tempel stiker yang berbunyi “Awas bahaya Laten Korupsi”. Bahkan pemerintah sudah membentuk lembaga KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) sebagai “polisinya orang korupsi”. Tidak sedikit pejabat dan mantan pejabat yang sudah masuk kedalam hotel Prodeo karena perantaraan tangan KPK. Meskipun KPK kini mulai diobok-obok oleh pihak yang tidak mau skandal korupsinya terbongkar.
Dan apakah korupsi itu dapat dilenyapkan dari muka bumi ini? Jawabannya bermacam-macam mulai dari yang pesimis dan optimis. Dari golongan yang pesimis bahkan ada yang mengeluarkan statement bahwa korupsi akan tetap ada sepanjang kantong baju manusia masih menghadap keatas. Tapi golongan yang optimis membantah golongan pesimis, bahwa korupsi bisa dihilangkan sepanjang ada kemauan dan kesepakatan dari semua pihak, bukankah korupsi itu bisa dihilangkan dengan senantiasa menjalankan agama secara benar, dan ada juga yang berpendapat bahwa korupsi itu bisa dihilangkan dengan cara kekerasan (memaksimalkan perangkat perundang-undangan dan aparat untuk mencegah korupsi). Nah dengan cara kekerasan inilah yang coba diterapkan oleh pemerintahan sekarang dengan menfungsikan KPK sebagai polisinya korupsi.
Tapi menurut hemat penulis korupsi yang sudah mendarah daging di negeri ini bisa dihilangkan cara menangkal virus-viru korupsi itu secara dini, ibarat slogan kesehatan “lebih baik mencegah daripada mengobati. Seperti yang diwacanakan sekarang ini anti korusi dimasukkan kedalam kurikulum sekolah dalam artian disekolah ada mata pelajaran anti korupsi. Terlepas dari pro dan kontra dari wacana ini, alangkah baiknya jika kemudharatan korupsi itu sejak dini (pada masa usia SD) diketahui. Bukankah pada masa pemerintahan orde Baru, pemerintah berhasil membuat seluruh lapisan masyarakat mengetahui kebejatan PKI dan antek-anteknya lewat kampanye secara berkesinambungan. Tidakkah Pemerintah sekaran bisa mengambil metode kampanye pemerintah Orde baru dulu, yakni mengkapanyekan sebagai bahaya laten dan bahaya nyata yang setiap saat bisa menyerang siapa saja. Akhirnya berpulang kepada kita semua bahwa mulai sekarang kita harus menanamkan dalam hati sanubari kita serta kepada anak cucu kita bahwa korupsi itu berbahaya, sama bahkan lebih bahaya dari komunisme, dan bila kita mampu untuk berprinsip seperti itu niscaya korupsi itu akan segera enyah dari negeri kita tampa mengubah model baju dengan mengubah kanting baju menghadap kebawah.[ki]